Chat with us, powered by LiveChat

Jangan Impor Ekstremisme Suriah ke Indonesia

Suriah dulu masyarakatnya bisa hidup bersama, berwarna-warni, dari kelompok yang beragam. Di salah satu distrik di Damaskus, ada kelompok Sunni, Syiah, Yahudi, Kristen yang hidup dalam satu flat. Tidak merasakan ada gesekan diantara mereka. Lalu di tahun 2000, Bashar al-Assad dilantik menjadi presiden suriah. 

Dia membuat terobosan ekonomi  dan membuka kampus swasta, ini merupakan langkah positif di awal kepemimpinannya. Namun wailayah regionalnya mengalami krisis, dipertaruhkan dari intervensi dari pihak luar.

Perang di suriah dipicu dari fitnah yang membenturkan antara Alawiyyah dan Sunni, antara Syiah dan Sunni, antara Muslim dan Kristiani. Masyarakat diprovokasi agar menuntut perbaikan, kebebasan, kemudian berlanjut sampai dengan menurunkan pemerintahan yang sah. Kelompok Kurdi juga berperan atas memberontak terhadap rezim tersebut. 

Kemudian banyak milisi dari berbagai negara masuk menginvasi Suriah. Banyak pihak yang memperkeruh pertikaan tersebut, sebut saja Negara Islam di Irak dan Suriah dan Jabhah Nusra dengan berbagai sokongan senjata dan logistik terhadap mereka.

Seiring berjalannya massa dan perundingan perdamaian, Suriah kian membaik. Tentu masih ada kelompok yang bersenjata. Namun kekuatan mereka kian menipis dan mengendur. Stabilitas keamanan kian membaik. Ekstremis tidak memberikan manfaat apapun, kecuali kehancuran yang berkepanjangan. Perang memproduksi kekerasan yang merusak.

Banyak hal yang bisa kita petik dari konflik di Suriah, pertama, jangan pernah biarkan paham ekstremisme merasuki kaum muda. Kelompok ekstremis berusaha menyebarkan gagasan dan idengan kepada masyarakat, kita musti mengembangkan ajaran keagaman yang komprehensif dan moderat. Menggunakan dialog dalam bertukar argumentasi merupakan cara efisien untuk meredakan kesenjangan. Kedua, tidak berlebihan dalam beragama. Memahami keilmuan dengan proposional menjauhkan masyarakat dari percekcokan yang sia-sia.

Paham ekstrimis memiliki ciri khas yang bisa kita amati bersama. Mereka berkeinginan bagaiman kelompok di luar agama tertentu untuk disingkirkan. Kalau kita melihat sejarah ketika Nabi di Madinah, beliau teramat melindungi semua kelompok, termasuk yang berbeda keyakinan. Apabila kelompok lain tidak memulai pertikaian, ada pembolehan untuk berhubungan baik dengannya. 

Perang hanya difungsikan sebagai usaha membela diri dari kelompok anarkis. Nabi Muhammad juga tidak memaksakan kelompok lain untuk seragam dengannya. Penerimaan perbedaan sangat berkaitan dengan pikiran sehat dan hati yang bersih dari kebencian. Pemaksaan diri hanya akan menjadi bom waktu bagi dirinya sendiri. 

Membangun sektor pendidikan dan pembinaan menjadi kunci bagaimana Nabi membagikan kebajikan, pesan santun dan bagaimana bertukar argumen dengan kepala dingin.

Indonesia dengan segala seluk beluknya berpotensi untuk menjadi pionir kemajuan. Masyarakat Indonesia dengan sukarela memeluk agama tanpa penaklukan militer. Walaupun Indoensia pernah dijajah oleh Belanda dan Jepang, ternyata tidak melunturkan spiritualitas, seakan telah mendarah daging dari bangsa ini. 

Keagamaan yang berkarakter menjadi pondasi dalam berpijak dan menjaukan dari paham destruktif. Ilmu pengetahuuan dari lembaga pendidikan dan kebudayaan membentengi diri dari sikap arogan, perlu kontrol bersama untuk menjaga bangsa ini dari perselisihan tak berujung. Masyarakat saat ini tengah menghadapi perang identitas lewat berbagai platform digital. Tugas kita adalah menjaga dari ancaman yang sekiranya membubarkan NKRI ini.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *